The Positive Sides for Being an Introvert

Hi peeps! New Wednesday, new blog post. Setelah beberapa minggu lalu aku sedikit membahas tentang “kehidupan kelam” seorang introvert, kali ini aku akan membahas “kehidupan glamor” alias keuntungan sebagai seorang introvert. For disclaimer, semua list yang nanti aku sajikan ke kalian adalah based on my own experience. Jadi buat kalian para introvert disana yang membaca artikelku ini mungkin saja tidak mengalami apa yang aku rasakan maupun sebaliknya. Because different individual, different experience.

  • I have loyal friends

As some of you may know, I always get a bad first impression toward new people. Banyak yang bilang aku memiliki “muka galak” saat pertama kali bertemu. Jadi secara tidak langsung itulah caraku untuk “memilah” teman. Bagi mereka yang memang ingin mengenalku lebih dalam pasti akan datang kembali dan bagi mereka yang hanya sekedar basa-basi biasanya akan menghilang dengan sendirinya. Oleh karena itu aku hanya memiliki sedikit teman yang semuanya adalah teman baik yang selalu ada disaat aku membutuhkan. Ada hal yang membuatku senang saat mereka berkata bahwa aku juga teman baik mereka karena selain pendengar yang baik, aku juga bisa menjadi pemberi nasihat yang baik. Well, that’s always make me blush.

  • I can do my own self-recharge

Seperti pada beberapa artikelku sebelumnya, aku selalu mengatakan malam mingguku kebanyakan aku habiskan dirumah . Menghabiskan waktu dirumah adalah caraku untuk me-recharge energiku setelah seminggu bekerja. Aku tidak membutuhkan bersosialisasi dengan banyak orang untuk mengembalikanku ke kondisi semula seperti layaknya para ekstrovert, bahkan cukup kebalikannya. Bersantai sendirian di rumah.

Falling in Love with Another Introvert

Kata orang rasa suka, sayang, cinta itu datang sesukanya. Kita tidak bisa memilih kapan, dimana dan dengan siapa hati kita berlabuh. It happens to everyone, including me. Aku merasakan suka, sayang dan cinta itu beberapa kali sebelum akhirnya aku memutuskan menikah dengan suamiku sekarang. 

In case you’re too busy to sit down and read my blog, I give you the Video version of my article

Kesan pertama pada suamiku adalah dia seorang extrovert. Why? Because he was famous in College ( we went to the same College), teman seangkatan, kakak dan adik angkatan banyak yang mengenal siapa dia. He was a smart student, but not a nerd. Long story short, setelah bekerja, kita mulai dekat dan akhirnya memutuskan untuk jadian. Saat itu dikarenakan pekerjaan, kita sempat merasakan LDR selama ± 2 tahun. Di masa LDR aku banyak menghabiskan waktu dengannya lewat telepon dan Skype. 

Dari obrolan kita, aku mulai berpikiran bahwa dia jauh dari kata extrovert, dia adalah seorang introvert sejati, even more introvert than me. Cara dia berbicara mengenai sebuah topik membuatku terpukau, he made me think beyond my belief. If he likes one thing, he can be so passionate into it, he always dig deeper than me, than anyone else I know.

Akhirnya 3 tahun setelah LDR, kita memutuskan menikah. We had a simple and intimate wedding, hanya dengan ± 60 tamu undangan. Walaupun masih termasuk pengantin baru, aku akan mencoba menceritakan seperti apa kehidupan dua orang introvert dalam satu atap.

Our Pre Wedding Photoshoot