Kata orang rasa suka, sayang, cinta itu datang sesukanya. Kita tidak bisa memilih kapan, dimana dan dengan siapa hati kita berlabuh. It happens to everyone, including me. Aku merasakan suka, sayang dan cinta itu beberapa kali sebelum akhirnya aku memutuskan menikah dengan suamiku sekarang.
Kesan pertama pada suamiku adalah dia seorang extrovert. Why? Because he was famous in College ( we went to the same College), teman seangkatan, kakak dan adik angkatan banyak yang mengenal siapa dia. He was a smart student, but not a nerd. Long story short, setelah bekerja, kita mulai dekat dan akhirnya memutuskan untuk jadian. Saat itu dikarenakan pekerjaan, kita sempat merasakan LDR selama ± 2 tahun. Di masa LDR aku banyak menghabiskan waktu dengannya lewat telepon dan Skype.
Dari obrolan kita, aku mulai berpikiran bahwa dia jauh dari kata extrovert, dia adalah seorang introvert sejati, even more introvert than me. Cara dia berbicara mengenai sebuah topik membuatku terpukau, he made me think beyond my belief. If he likes one thing, he can be so passionate into it, he always dig deeper than me, than anyone else I know.
Akhirnya 3 tahun setelah LDR, kita memutuskan menikah. We had a simple and intimate wedding, hanya dengan ± 60 tamu undangan. Walaupun masih termasuk pengantin baru, aku akan mencoba menceritakan seperti apa kehidupan dua orang introvert dalam satu atap.

