So, this is officially my longest hiatus yet from writing my blog. Setelah selesai dengan BlogMas 2019 aku benar-benar berhenti menulis disini, I neglected my blog for more than a half year. I don’t wanna give any lame excuses, I just forgot about this blog for a while.
Anyway, what’s new in my life? in my family? in this world we life in? This year every single person’s life is turning upside down. Pasti kalian sudah tahu apa yang aku maksud, ya kan? Tahun ini bisa dibilang tahun yang buruk untuk kebanyakan orang karena adanya Covid-19 yang sudah mengubah segalanya. Kesehatan, pendidikan, gaya hidup, mata pencaharian dan masih banyak lagi hal-hal yang berubah karena adanya pandemik global ini. Banyak usaha-usaha kecil maupun besar yang gulung tikar, murid-murid tidak bisa belajar bersama karena sekolah diliburkan serentak, dan banyak sekali korban jiwa yang terenggut akibat Covid-19 ini. Tapi kali ini aku tidak akan membahas hal itu, karena pastinya kita semua sudah lelah dan bertanya-tanya kapan pandemik ini berakhir.
Di awal tahun 2020 ini aku memulainya dengan sangat optimis bersama suami, kami percaya bahwa tahun ini bakal menjadi tahunnya kami dengan usaha yang aku rintis mulai merambat berdiri, begitu pula dengan suami. Apalagi kami sudah menemukan rumah impian kami. So we was super excited about this year, but apparently it wasn’t go as we plan. Tahun yang seharusnya membahagiakan ini berubah menjadi tahun yang buruk saat memasuki bulan April.
Di saat Covid-19 sudah mulai merajalela, kami sama sekali belum memiliki kesempatan untuk pulang ke rumah orang tua walau hanya sehari-dua hari. Rasa rindu yang teramat sangat terhalang dinding pandemik yang mulai berdiri dengan angkuhnya. Kamipun menerima keadaan dengan pasrah. Kemudian di awal bulan April kami mendapat kabar bahwa ayah hubby sakit dan harus masuk ke rumah sakit, disini kami sudah mulai panik karena keadaan tidak mengizinkan kami pulang, jadi hanya bisa memantau keadaan ayah lewat media elektronik saja. Tak berselang lama, ternyata Tuhan lebih sayang dengan ayah sehingga memanggilnya pulang. Walau tak berkesempatan menjenguk ayah saat masih sadar namun untungnya hubby masih diberi kesempatan untuk menunggu ayah hingga saat-saat terakhirnya. Sedih, hancur dan seakan masih belum percaya akan apa yang terjadi karena semua berlangsung sangat cepat, tapi apa daya kami harus menerimanya.

Dalam suasana berduka kami mencoba untuk bangkit, menguatkan bunda dan menata hidup kami kembali. Tapi memang sudah tak mungkin bisa sama seperti dahulu. Hari berganti menjadi minggu dan minggu berganti menjadi bulan, kami sudah mulai mampu menghadapi situasi yang baru ini walau tetap belum terbiasa, mulai menyusun rencana dan usaha yang tadinya sempat tertunda. Aku sudah mulai berani membuka bisnis fotografer lagi walaupun tetap memilah-milah klien. Yah, memang belum sesuai rencana, namun bisnisku ini sudah mulai sedikit tertata. Kalau kalian ada waktu, bisa kunjungi web promoku https://livinglonerphotography.wordpress.com/
Lalu, apa rencana kami kedepannya? Yang pasti tetap berjalan maju, walau tersendat-sendat dan harus “beristirahat” berkali-kali namun harus tetap mengarah kedepan.
Yah, begitulah sekilas dari apa yang terjadi dalam 7 bulan terakhir ini. Semoga kedepannya akan semakin baik ya, untukku, keluargaku dan tentunya kalian semua.
Sincerely,
Sincera, another free spirited introvert


















