French Fries Friday-The Body (El Cuerpo – 2012)

Hi para movie enthusiasts,

One fact about me adalah I’m a movie junkie, horror, misteri dan thriller, terkadang komedi, but not that much.  Salah satu topik yang akan selalu ada di blog ini adalah ulasan mengenai film yang aku suka, dan aku berusaha untuk selalu meng-update  di hari Jumat. I call it ” French Fries Friday”, paham lah ya, di akhir minggu menonton film dengan cemilan french fries a.k.a kentang goreng, karena pop corn sudah terlalu mainstream.

Just for your information, film yang akan aku ulas tidak melulu film Holywood yang sedang trending.  Random movie yang aku temukan di internet atau mungkin bisa dari usulan teman. Sebagian besar adalah film-film underrated yang bukan film Hollywood, melainkan film lokal maupun film asing yang menurutku layak mendapatkan tambahan bintang di rating imdb-nya. 

Seperti film yang satu ini, dengan rating imdb 7.6/10 dari 39.784 pengguna, Spanish movie berjudul El Cuerpo atau dalam bahasa Inggris The Body. Film keluaran tahun 2012 ini memiliki genre thriller, of course my favorite genre. Film ini disutradarai oleh Oriol Paulo, dimana kebanyakan memiliki cerita yang unik dan susah ditebak hingga akhir. Bila kalian menyukai film dengan unexpected twist ending, you’ll love this movie!

image from IMDb

Film ini bermula dari satpam kamar mayat, Angel Torres yang tertabrak karena melarikan diri dari hutan menuju jalan raya di malam hari dan menghilangnya mayat Mayka Villaverde, seorang wanita miliader istri dari Alex Ulloa. Seorang polisi, Jamie Pena ditugaskan untuk menyelidiki kasus tersebut dan tentunya menemukan mayat Mayka yang hilang. Alex Ulloa dipanggil pihak kepolisian menuju kamar mayat tempat istrinya dititipkan. Penyelidikan Jamie berawal dengan menanyakan kepada Alex apakah ada kemungkinan seseorang mencuri mayat Mayka demi menyakiti Alex dan keluarga. Selain itu Jamie memanggil Dr. Tapia, dokter yang menyatakan Mayka meninggal karena serangan jantung. Dari Dr. Tapia didapatkan salah satu kesimpulan yang mengejutkan bahwa Mayka mungkin mengalami katalepsi, yaitu penyakit dimana penderitanya tidak dapat menggerakkan tubuhnya sendiri dalam jangka waktu lama dan fungsi tubuh seperti pernafasan melambat.

I am an Introvert

Hai namaku Sincera, dan aku adalah seorang introvert. Butuh waktu lama untuk benar-benar menyadari dan mengakui  bahwa aku adalah seorang introvert.

Pemahaman awalku mengenai introvert adalah seseorang yang pemalu, pendiam dan selalu menutup diri. Dan untuk seorang anak berumur 7 tahun yang baru memulai kehidupan bersosialisasi dengan orang, sebutan sebagai introvert tidaklah mudah, banyak sekali omongan “Ayo main sama si A, si B dan yang lain, jangan cuma diam saja di rumah.”

Beranjak dewasa aku mencoba bergaul dengan banyak teman, berkumpul dengan kenalan baru dan banyak hal lain kulakukan untuk membuat orang berpikir bahwa aku bukan seorang introvert. Namun rasa tidak nyaman setelah terlalu sering hangout bersama teman hampir setiap saat kurasakan. 

Di masa lalu dimana dunia internet belum merajai dunia nyata, hampir semua orang di sekitar cenderung berusaha “menyembuhkan” seorang introvert. Tak jarang aku dianggap orang yang tidak bisa bergaul dan tidak memiliki banyak teman. Cukup menyiksa memang acting like someone you’re not. Namun untunglah sekarang di zaman Google adalah kamus, banyak pengetahuan mengenai introvert yang dapat digali, banyak mitos-mitos mengenai introvert yang salah dapat diluruskan.

Dan ini adalah beberapa mitos, menurut pengalamanku, yang sering membuat orang salah kaprah dalam menghadapi seorang introvert :

  • Introvert = tidak bisa bergaul

          Seorang introvert memang lebih suka menghabiskan waktu sendirian di rumah, perpustakaan atau dimanapun yang merupakan tempat favorit mereka dan melakukan apapun yang mereka suka. Keadaan dimana mengharuskan untuk bergaul dengan kenalan baru membuat mereka lelah, dan menyendiri adalah cara mereka untuk me-recharge energi yang sudah hilang. Yap, aku menyebutnya dengan energi karena believe it or not waktu yang dihabiskan bersosialisasi membuat energi mereka terkuras, physically and mentally.